Positifisme


Perkembangan Akal Budi Manusia dan Zaman Positif : Filsafat Auguste Comte

1. Pendahuluan

Tulisan ini akan mendiskripsikan dua gagasan pokok dalam filsafat Auguste Comte ( 1798 – 1857 ), yakni tentang tahap –tahap perkembangan akal budi manusia dan tentang ilmu pengetahuan positif. Setelah itu akan dievaluasi secara kritis sampai sejauh mana pengaruh filsafat ini terhadap asfek di dalam kebudayaan dan beberapa permasalahan yang ditimbulkan.

Istilah positifisme mengacu pada dua hal sebagai berikut :
a. Pada teori pengetahuan istialah positivisme biasanya didefinisikan sebagai salah satu paham dalam filsafat baratyang hanya mengakui dan membatasi pengetahuan yang benar pada fakta –fakta positif, dan fakta tersebut harus didekati dengan pengunaan ilmu pengetahuan, yaitu eksperimentasi, obsevasi dan komparasi

Fakta positif adalah fakta yang sungguh –sungguh nyata, pasti, berguna, jelas dan langsung dapat diamati dan dibenarkan oleh setiap orang yang memepunyai kesempatan sama untuk mengamati dan menilainya.

b. Teori tentang perkembangan sejarah ( akal budi ) manusia, istialah positivisme identik dengan tesis Comte sendiri mengenai tahap –tahap perkembangan akal budi manusia, yang secara linier bergerak dalam urutan –urutan yang tidak terputus. Perkembangan ini bergerak dari tahap mistis ke tahap metafisis dan berahair pada tahapan yang paling tinggi, yakni tahap positif.


2.
Tahap –tahap perkembangan akal budi manusia
a.
Tahap teologis
  • Tahap paling awal dari perkembangan akal manusia.
  • Pada tahap ini manusia berusaha berusaha menerangkan segenap fakta atau kejadian dalam kaitanya dengan teka –teki alam yang dinggap misteri.
  • Manusia tidak menghayati dirinya sebagai makluk luhur dan rasioanal yang posisinya dialam berada di atas makluk –makluk lain.
  • Ia menghayati dirinya sebagai bagian dari keseluruhan alam, yang selalu diliputi oleh rahasia yang tidak terpecakan oleh pikiranya yang sederhana.

Dalam tahap teologis ini ada beberapa bentuk cara berfikir.
  • Fetyisme dan animism, dalam kedua bentuk ini kita menyaksikan bagaimana manusia mengahayati alam semesta dalam individualitas dan partikularitasnya.
  • Politeisme, cara berfikir ini lebih maju, dimana orang sudah mulai menyatukan dan mengelompokan semua benda dan kejadian kedalam konsep yang lebih umum. Pengelompokan ini berdasarkan pada kesamaan – kesamaan yang ada pada diri mereka.
  • Monotisme, cara berfikir ini tidak lagi mengakui banyak roh dari benda –benda atau kejadian –kejadian, tetapi hanya mengakui satu roh saja, yakni tuhan.

Cara berfikir membawa pengaruh besar terhadap kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan. Misalnya monoteisme memungkinkan berkembangnya dogma –dogma agama, yang kemudian dijadikan pedoman hidup bermasyarkat.
b. Tahap metafisis
  • Pada tahap ini manusia mulai mengadakan perombakan perombakan atas cara berfikirnya yang lama, yang dinggapanya tidak sanggup lagi memenuhi keinginan manusia, untuk menemukan jawaban yang memuaskan jawaban tentang kejadian dialam semesta.
  • Pada tahap ini semua kejadian atau gejala tidak lagi dihubungkan dengan dan diterngkan dengan kekuatan yang bersifat supranatural atau rohani.
  • Pada tahap ini manusia berusaha keras untuk mencar hakikat atau esensi dari segala sesuatu.
  • Manusia tidak lagi puas hanya dengan mencari pengertian –pengertian umum, tampa dilandasi argumen - argumen positif.
  • Dogma agama mulia ditingglakan dan kemampuan akal budi mulai dikembangkan.
  • Akan tetapi tahap ini merupakan suatu bentuk modifikasi artificial saja dari tahap teologis.

Perbedaan diatara kedua cara berfikir tersebut terletak pada cara menerangkan kenyataan : alam yang semula diasalakan dari dewa-dewa, kini diterangkan dengan mengunakan konsep-konsep pengadean – pengadena a priori, tampa penelitian sungguh –sungguh dan ilmiah. Konsep yang sebemlunya yang abstak seperti, kodrat, kehendak tuhan, roh absolute, tuntutan hati nirani, dan sebagainya, tidak diambil begitu saja dari dogma agama, yang tidak mempunyai dasar empiris dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi tahap metafisis merupakan tahap peralihan saja dari tahap cara berfikir lama ( teologis )

c. Tahap positif
  • Gejala alam tidak lagi dijelaskan dengan a priori, melaikan pada observasi, eksperimen dan komparasi yang ketat dan teliti.
  • Akal tidak tidak diarahkan untuk mencari kekuatan –kekuatan transden dibalik hakikat didalam setiap gejala dan kejadian.
  • Akal diarahakan untuk mengobservasi gejala dan kejadian secara empiris dan hati –hati untuk menemukan hukum – hukum atau sebab dari kejadian yang ada.

Hukum –hukum yang ditemukan secara demikian tidak lagi bersifat irasional dan kabur melainkan hukum – hukum itu menjadi bersifat pasti dan dapat dipertangungjawabkan.
Hukum –hukum itupun bersifat pasti dan bermanfaat, karena kalau kita mengetahui dan menguasai hukum –hukum tersebut, maka kita dapat mengontrol dan memanipulasi gejala –gejala atau kejadian –kejadian tertentu sebagai sarana untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
3. Ilmu pengetahuan positif
Beberapa asumsi ilmu pengetahuan positif

a .
Ilmu pengetahuan bersifat objektif ( bebas nilai dan netral ). Objektivitas pengetahuan berlangsung dari dua belah pihak : pihak subjek dan pihak objek.

Pihak subjek : seorang ilmuan tidak boleh dirinya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh faktor –faktor dari dalam dirinya sendiri, misal : sentiment pribadi, kepentingan – kepentingan pribadi atau kelempok, kepercayaan agama, filsafat dan apa saja yang dapat mempengaruhi objektivitas dari orang yang diobservasi.

b. Ilmu pengetahuan hanya berhubungan dengan hal-hal yang berulang kali terjadi

Kalau misalnya pengetahuan hanya terjadi sekali saja maka pengetahuan tidak akan membantu kita untuk meramalkan memastikan hal –hal yang kan terjadi, padahal ramalan ( prediksi ) justru merupakan salah satu tujuan penting dalam pengetahuan. Karena dalam setiap penjelasan teori atau hukum sudah terkandung predeksi.

c. Ilmu pengetahuan menyoroti setiap phenomena atau kejadian alam dari saling ketergantungan dan antarhubunnganya dengan fenomena –fenomena atau kejadian –kejadian lain.
Maka perhatian para ilmuan buak diarahkan pada hakikat dari gejala –gejala atau kejadian –kejadian , melainkan pada relasi luar, khususnya sebap akaibat, anatra benda – benda, gejala –gejala, kejadian –kejadian.

Ketiga asumsi tersebut pada prinsipnya dilandasi oleh keyakinan ontologisme Comte yang bersifat naturalistic dan deterministic, yakni bahwa segenap gejala tau kejadian, tampa kecuali tunduk pada hukum alam. Hukum ini berjalan secara mekanis dan yang menentuakn bukan hanya gejala tau kejadian yang bersifat fisis atau inorganik tetapi juga gejala atau kejadian psikis dan organis.

Selain itu, Comte pun mempunyai keyakinan epistemologis dan metodelogis yang sangat kuat. Penolakan Comte terhadap cara berfikir teologis dan metafisis, serta usahanya merumuskan suatu ilmu pengetahuan positif yang bersifat objektif, ilmiah dan universal pada ahirnya membawa dia pada ilmu pasti, studi yang mendalam mengenai ilmu ini.

4. Pengaruh positivisme Auguste Comte
Menurut pengamat para ahli filsafat barat, kontribusi filsafat positivisme Comte terhadap kebudayaan barat antara lain:
  • Semakin tebalnya optemisme masyarkat barat yang sejak timbul sejak jaman Aufklarung mengenai hari depan umat manusia yang semakin lebih baik.
  • Semangat eksploratif dan ilmiah para ilmuan sedemikian rupa, sehingga mendorong lahirnya model –model ilmu pengetahuan positf, yang lepas dari muatan –muatan spekulatif.
  • Konsepsi yang semakin meluas tentang kemajuan atau medernasi yang menitikberatkan pada kemajuan medernisasi pada bidang ekonomi, fisik, dan teknologi ( model masyarakat ekonomi ).
  • Menguatakan golongan teknokrat dan industriawan dalam pemerintahan.



hA tuR NuHun


0 komentar:

Posting Komentar